Jakarta – Penyakit jantung koroner akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.
Penanganannya terus berkembang melalui prosedur intervensi koroner perkutan (PCI), yang dikenal masyarakat sebagai prosedur pemasangan ring dan balon jantung.
Setelah melalui beberapa perkembangan teknologi, kini terdapat Drug-Coated Balloon (DCB) atau balon berbalut obat.
Berbeda dari ring jantung, teknologi ini menawarkan terapi pada pembuluh darah tanpa meninggalkan implan permanen di dalam tubuh.
Menurut konsultan Intervensi Jantung Eka Hospital MT Haryono, dr. Rizki, Sp.JP (K), Drug-Coated Balloon adalah teknologi intervensi jantung berupa balon khusus yang bagian luarnya dilapisi obat antirestenosis.
“Drug-Coated Balloon (DCB) atau balon berbalut obat adalah teknologi intervensi jantung berupa balon khusus yang bagian luarnya dilapisi oleh obat antirestenosis,” jelas dr. Rizki di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Baca juga: Studi Temukan Kaitan Polusi Udara dengan Risiko Bunuh Diri
Cara kerjanya dilakukan dengan memasukkan balon ke lokasi pembuluh darah yang mengalami penyempitan.
Ketika balon dikembangkan selama beberapa detik, obat pada permukaannya akan ditransfer langsung ke dinding pembuluh darah.
“Setelah obat terserap, balon dikempiskan dan dikeluarkan kembali dari dalam tubuh tanpa meninggalkan benda asing atau implan permanen,” ujar dr. Rizki.
Pendekatan inilah yang menjadi karakter utama DCB. Obat dapat diberikan pada area yang membutuhkan terapi, tetapi tidak ada ring atau struktur logam yang ditinggalkan di dalam pembuluh darah.
DCB tidak sepenuhnya menggantikan Drug-Eluting Stent (DES). Teknologi ini justru menjadi pilihan medis untuk kondisi tertentu, seperti penyempitan yang kembali terjadi di dalam ring atau in-stent restenosis.
Pada kondisi tersebut, DCB dapat digunakan untuk menangani penyumbatan kembali tanpa harus menumpuk ring baru.
Teknologi ini juga dapat menjadi pilihan pada pembuluh darah berukuran kecil yang terlalu kecil untuk dipasangi stent logam.
DCB juga dapat dipertimbangkan pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi. Karena tidak meninggalkan implan, durasi konsumsi obat pengencer darah ganda atau Dual Antiplatelet Therapy (DAPT) dapat disesuaikan lebih singkat dibandingkan pemasangan ring konvensional.
Tidak adanya implan permanen juga membuat struktur alami pembuluh darah tetap terjaga dan dapat merespons vasomotion, yakni pelebaran dan penyempitan alami pembuluh darah.
Obat yang diberikan melalui balon bekerja langsung pada area yang ditargetkan untuk membantu mencegah pembentukan jaringan parut.
Selain itu, tidak adanya jaringan logam yang tertinggal membuat pilihan terapi atau tindakan medis lain di kemudian hari tetap terbuka.
Meski demikian, pemilihan DCB maupun DES tetap perlu disesuaikan dengan evaluasi klinis dan struktur anatomi pembuluh darah pasien.
Untuk mengetahui metode intervensi yang sesuai, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, termasuk dr. Rizki, Sp.JP (K), FIHA, Konsultan Intervensi Jantung di Eka Hospital MT Haryono.
Baca juga: Artificial Ligament, Opsi Pemulihan Cepat pada Cedera ACL



