Krisis Malnutrisi, 1 Juta Anak Afghanistan Terancam Meninggal

William Ciputra26 Agustus 2026

Jakarta – Krisis malnutrisi anak di Afghanistan semakin memburuk. UNICEF menyebut sekitar 3,7 juta anak mengalami wasting, kondisi kekurangan gizi akut yang membuat berat badan anak jauh di bawah standar untuk tinggi badannya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1 juta anak mengalami severe acute malnutrition (SAM) atau malnutrisi akut berat, bentuk kekurangan gizi paling parah yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera mendapat penanganan.

Perwakilan UNICEF untuk Afghanistan Tajudeen Oyewale mengatakan kondisi tersebut membutuhkan respons cepat karena anak dengan malnutrisi akut berat menghadapi risiko kematian yang sangat tinggi.

“Jika tidak ada pengobatan dan kita tidak dapat bertindak cepat, satu juta anak tersebut berisiko meninggal,” kata Oyewale, seperti dikutip dari France24.

Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah anak yang membutuhkan perawatan. Hingga tahun ini, lebih dari 500.000 anak telah dirawat di rumah sakit akibat wasting tingkat sedang maupun berat yang berisiko tinggi.

Pada Juli 2025, sekitar 6.000 kasus severe acute malnutrition tercatat masuk untuk mendapatkan perawatan. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 8.000 kasus atau sekitar sepertiga lebih tinggi.

Baca juga: Iran Temukan Ladang Gas dengan Cadangan 300 Miliar Meter Kubik

“Di beberapa wilayah Afghanistan bagian selatan, sejumlah rumah sakit kini menangani tiga atau empat anak dengan malnutrisi berat untuk setiap tempat tidur yang tersedia,” ujar Oyewale.

Bayi dan anak usia sangat muda menjadi kelompok yang paling rentan. Hampir 40 persen anak yang dirawat di rumah sakit karena wasting berat disertai komplikasi medis merupakan bayi berusia di bawah enam bulan.

Sementara itu, anak berusia di bawah dua tahun mencakup lebih dari 80 persen kasus malnutrisi akut berat di Afghanistan.

UNICEF menilai kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari situasi sosial dan ekonomi Afghanistan yang telah mengalami berbagai krisis selama beberapa dekade.

Perang dan konflik berkepanjangan, kekeringan, banjir bandang, gangguan perdagangan lintas batas, serta keterbatasan ekonomi terus menekan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Kondisi semakin berat setelah jutaan warga Afghanistan kembali dari luar negeri. Sejak 2023, sekitar 6 juta warga Afghanistan telah kembali ke negara tersebut, lebih dari separuh di antaranya merupakan anak-anak.

Arus kepulangan tersebut menambah tekanan terhadap sumber daya dan layanan dasar yang sudah terbatas.

Di tingkat rumah tangga, tekanan ekonomi membuat keluarga mengurangi jumlah maupun kualitas makanan.

UNICEF menggambarkan bagaimana makanan pertama anak setelah masa pemberian ASI terkadang hanya berupa roti dengan teh atau yoghurt yang diencerkan dengan air.

“Bagi anak yang sedang tumbuh, makanan seperti ini jelas tidak mencukupi,” ujar Oyewale.

Kekurangan gizi juga dapat membentuk siklus yang sulit diputus. Anak yang kurang mendapat nutrisi lebih rentan mengalami penyakit seperti diare berat atau infeksi saluran pernapasan. Penyakit tersebut kemudian semakin memperburuk kondisi gizinya.

Oyewale menyebut situasi itu sebagai “lingkaran setan”, ketika kekurangan gizi, penyakit, dan kondisi keluarga yang rentan terus memperkuat satu sama lain.

Persoalan tidak berhenti ketika seorang anak berhasil mendapatkan perawatan. Jika anak kembali ke lingkungan dengan kondisi pangan dan kesehatan yang sama, risiko kekurangan gizi dapat kembali muncul.

“Ketika mereka yang telah selamat kembali ke kondisi yang sama di rumah, kami sering melihat anak-anak tersebut kembali mengalami malnutrisi dan harus menjalani perawatan lagi,” kata Oyewale.

Di tengah kebutuhan yang meningkat, layanan penanganan malnutrisi justru menghadapi pengurangan bantuan internasional.

UNICEF mencatat lebih dari 100 lokasi yang menangani anak dengan wasting berat telah ditutup sejak 2025.

Program nutrisi UNICEF di Afghanistan membutuhkan sekitar US$180 juta sepanjang tahun ini. Namun, hingga kini pendanaannya baru mencapai sekitar 22 persen.

Baca juga: Trump Klaim Kim Jong Un Sudah Respons Ajakan Dialog