Apa Itu Desil? Ini Penjelasan dan Cara Ceknya!

William Ciputra27 Agustus 2026

Jakarta – Istilah desil ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Pemantiknya adalah muncul keluhan masyarakat yang merasa kondisi ekonominya tidak sesuai dengan desil yang tercatat dalam data pemerintah.

Persoalan ini bukan sekadar soal angka di layar, sebab posisi desil dapat berkaitan dengan penentuan sasaran sejumlah program bantuan sosial.

Perdebatan mengenai akurasi desil juga bukan hal baru. Dalam laporan kinerja 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya temuan perbedaan hasil pemeringkatan desil DTSEN dengan kondisi hasil verifikasi lapangan.

BPS bahkan menyebut potensi exclusion error, yakni keluarga yang sebenarnya memenuhi kriteria tetapi tidak masuk dalam kelompok sasaran.

Oleh karena itu, penting memahami apa sebenarnya arti desil, bagaimana posisi Desil 1 sampai 10 ditentukan, serta apa yang bisa dilakukan jika data yang muncul tidak sesuai dengan kondisi keluarga saat ini.

Baca juga: 5 Mitos UMKM yang Keliru, dari Modal hingga Peralatan Usaha

Pengertian Desil

Desil adalah pengelompokan masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil saat ini menjadi bagian dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Dalam DTSEN, Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 berada di tingkat paling tinggi.

Basis data tersebut dibangun untuk mengintegrasikan informasi sosial dan ekonomi masyarakat dan menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan sasaran berbagai program.

DTSEN memiliki landasan melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional.

BPS mendapat tugas untuk menetapkan sumber data, menyusun, mengelola, dan memutakhirkan DTSEN. Ketentuan pengelolaan DTSEN juga diatur melalui Peraturan BPS Nomor 6 Tahun 2025.

Penentuan desil tidak semata-mata melihat berapa gaji atau pendapatan seseorang. BPS menjelaskan bahwa pengelompokan kesejahteraan menggunakan berbagai variabel.

Antara lain kondisi pendidikan, ketenagakerjaan, kualitas tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kondisi kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, serta kepemilikan usaha.

Dalam proses pemeringkatan, BPS juga menggunakan metode Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan tingkat konsumsi atau pengeluaran per kapita berdasarkan karakteristik individu dan keluarga.

Hasil perkiraan tersebut kemudian digunakan untuk menyusun peringkat kesejahteraan dan membentuk kelompok desil.

Artinya, desil bukanlah label permanen tentang seseorang miskin atau kaya. Posisi tersebut menggambarkan peringkat kesejahteraan berdasarkan data yang dimiliki pemerintah pada saat pemeringkatan.

Data tersebut juga bersifat dinamis dan dapat diperbarui mengikuti perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Baca juga: Career Day 2026 Buka 850 Peluang Kerja untuk Talenta Muda

Penjelasan Desil 1-10

Pembagian desil menunjukkan posisi relatif tingkat kesejahteraan keluarga dalam populasi. Semakin kecil angka desil, semakin rendah kelompok kesejahteraannya.

  • Desil 1 merupakan kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Kelompok ini menjadi salah satu prioritas utama dalam berbagai program penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial.
  • Desil 2 merupakan kelompok sekitar 10 persen berikutnya setelah Desil 1. Tingkat kesejahteraannya berada di atas Desil 1, tetapi masih termasuk kelompok dengan tingkat kesejahteraan rendah.
  • Desil 3 berada pada kelompok berikutnya. Bersama Desil 1 dan 2, kelompok ini masih berada di bagian bawah pemeringkatan kesejahteraan nasional.
  • Desil 4 merupakan kelompok 10 persen berikutnya. Desil 1 sampai 4 secara keseluruhan mencakup 40 persen terbawah dalam pemeringkatan kesejahteraan.
  • Desil 5 berada di titik tengah pemeringkatan. Kelompok ini tidak otomatis berarti miskin maupun tidak miskin. Dalam kebijakan tertentu, Desil 5 masih dapat menjadi sasaran program tertentu sesuai kriteria yang berlaku. Situs resmi Cek Bansos, misalnya, menyebut Desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK.
  • Desil 6 merupakan kelompok yang berada di atas kelompok 50 persen terbawah. Posisi ini menunjukkan tingkat kesejahteraan yang relatif lebih tinggi dibandingkan Desil 1 sampai 5.
  • Desil 7 berada satu tingkat di atas Desil 6 dan termasuk kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif lebih tinggi dalam pemeringkatan.
  • Desil 8 berada pada kelompok 20 persen atas dalam pemeringkatan kesejahteraan.
  • Desil 9 termasuk kelompok dengan tingkat kesejahteraan tinggi dan berada di antara 20 persen teratas.
  • Desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi dalam pemeringkatan desil.

Yang perlu diperhatikan, angka desil tidak dapat diterjemahkan menjadi batas penghasilan tertentu, misalnya Desil 1 pasti berpenghasilan di bawah angka tertentu atau Desil 10 pasti memiliki penghasilan di atas angka tertentu.

Pengelompokan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi rumah tangga, bukan satu indikator tunggal.

Baca juga: Usulan Tarif Parkir hingga Rp60 Ribu, Begini Kata Gubernur

Cara Cek Desil

Masyarakat dapat mengecek posisi desil melalui situs resmi Cek Bansos Kementerian Sosial. Pada laman tersebut, pengguna dapat memasukkan NIK untuk melihat informasi terkait data kesejahteraan yang tercatat.

Langkah sederhananya:

  • Buka laman cekbansos.kemensos.go.id;
  • Masukkan NIK sesuai KTP;
  • Isi kode huruf captcha;
  • Tekan tombol untuk Cari Data.
  • Periksa informasi desil yang tercantum pada hasil pencarian.

Perlu diperhatikan bahwa informasi desil dapat berubah karena DTSEN merupakan data yang terus dimutakhirkan. Jadi, hasil pengecekan pada satu waktu tidak selalu menjadi posisi permanen sebuah keluarga.

Baca juga: Judol Jadi Pemicu Mayoritas Perceraian di Tangerang

Apa yang Harus Dilakukan Jika Desil Tak Sesuai?

Jika hasil pengecekan menunjukkan desil yang menurut kamu tidak menggambarkan kondisi keluarga saat ini, jangan langsung menganggap data tersebut tidak bisa diubah.

Kemensos menyatakan bahwa desil bersifat dinamis. Jika data tidak sesuai, masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran melalui desa atau kelurahan dan dinas sosial, atau melalui Aplikasi Cek Bansos dengan menyampaikan kondisi yang sebenarnya.

Setelah proses pemutakhiran dan verifikasi, desil akan dihitung ulang secara berkala oleh BPS.

Proses tersebut penting karena kondisi ekonomi rumah tangga dapat berubah. Seseorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan tetap, misalnya, bisa mengalami kehilangan pekerjaan.

Begitu pula kondisi rumah, kepemilikan aset, jumlah tanggungan, maupun keadaan keluarga dapat berubah.

BPS sendiri telah mencatat bahwa proses pemutakhiran DTSEN masih menghadapi tantangan, termasuk adanya perbedaan antara hasil pemeringkatan dengan temuan verifikasi di lapangan.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pembaruan data agar kondisi yang tercatat semakin mendekati keadaan sebenarnya.

Oleh karena itu, jika desil yang muncul terasa tidak sesuai, langkah yang paling tepat bukan sekadar menunggu perubahan.

Ajukan pemutakhiran data dengan informasi yang benar dan siapkan dokumen pendukung yang diperlukan, kemudian ikuti proses verifikasi melalui jalur yang tersedia.

Baca juga: Paramount Petals Hadirkan Shuttle Bus ke Jakarta