Search

Waspada, Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Bisa Tanpa Gejala!

William Ciputra•24 Oktober 2026

Ilustrasi bayi yang mendapat perawatan di rumah sakit. (Unsplash/solenfeyissa)

Jakarta – Bayi yang lahir dengan kondisi sehat dan menangis kuat belum tentu terbebas dari penyakit jantung bawaan (PJB).

Kelainan ini bisa tidak menunjukkan gejala sejak lahir, sehingga deteksi dini penting untuk mencegah keterlambatan penanganan.

Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan PJB setiap tahun. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian bayi baru menunjukkan gejala beberapa minggu atau bulan setelah dilahirkan.

Konsultan Jantung Anak BraveHeart Cardiovascular Center, Brawijaya Hospital Saharjo, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp Kardio, menjelaskan bahwa PJB merupakan kelainan struktur jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama perkembangan janin.

Menurut Anisa, bentuk dan tingkat keparahan PJB pada bayi sangat beragam, sehingga tanda yang muncul pada setiap bayi bisa berbeda.

“Pada beberapa kasus, gejala penyakit jantung bawaan dapat terlihat sejak bayi dilahirkan. Namun, pada kasus lainnya, tanda-tanda baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian,” jelas Anisa dalam keterangan tertulis yang diterima Urbanstories, Jumat (23/10/2026).

Baca juga: Balon Berbalut Obat, Inovasi Intervensi Jantung Tanpa Implan Permanen

Gejala yang perlu diperhatikan meliputi bayi mudah lelah saat menyusu, sering berhenti untuk mengambil napas, berkeringat berlebihan, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal.

Napas cepat yang menetap, lanjut Anisa, juga perlu diperiksa, terutama jika disertai kesulitan menyusu.

Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu menandakan PJB. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya, sebab bayi yang tampak sehat dan memiliki skor Apgar normal pun belum tentu bebas dari kelainan jantung.

“Skor Apgar merupakan penilaian awal untuk mengetahui kondisi umum bayi pada menit-menit pertama kehidupan. Skor ini bukan alat untuk mendeteksi kelainan struktur jantung,” terang Anisa.

Anisa lantas menyebutkan salah satu pemeriksaan yang dapat membantu mendeteksi PJB kritis, yaitu skrining saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi.

Jika hasilnya tidak normal atau terdapat kecurigaan klinis, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan, termasuk ekokardiografi atau USG jantung.

“Diagnosis penyakit jantung bawaan sedini mungkin berperan penting dalam menentukan rencana penanganan dan pemantauan tumbuh kembang anak,” ungkap Anisa.

Penanganan PJB bergantung pada jenis kelainan dan kondisi pasien. Sebagian anak cukup menjalani pemantauan berkala, sementara lainnya membutuhkan obat-obatan, kateterisasi jantung, atau operasi.

Orangtua disarankan menanyakan skrining PJB kepada dokter atau bidan saat pemeriksaan bayi. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas atau bibir dan lidah tampak kebiruan, segera cari pertolongan medis.

Baca juga: Paham Kondisi Fertilitas Penting untuk Merencanakan Kehamilan