Jakarta – Gangguan prostat menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami pria, terutama seiring bertambahnya usia. Meski dapat mengganggu kualitas hidup, saat ini sudah tersedia berbagai pilihan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp. U menjelaskan, prostat terletak tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh.
“Prostat ini merupakan kelenjar yang berukuran kurang lebih sebesar kacang kenari dan merupakan bagian penting dari sistem reproduksi pria,” katanya dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Seiring bertambahnya usia dan adanya pengaruh hormon testosteron, ukuran prostat secara alami dapat terus membesar.
Andar menjelaskan, pembesaran tersebut dapat menekan uretra dan menyebabkan berbagai gangguan saat buang air kecil, seperti pancaran urine yang melemah, lebih sering buang air kecil, atau merasa buang air kecil tidak tuntas.
Namun tidak semua keluhan tersebut disebabkan oleh kondisi yang sama. Secara umum, terdapat tiga gangguan prostat yang sering dialami pasien, yaitu benign prostatic hyperplasia (BPH), prostatitis, dan kanker prostat.
“Gangguan prostat memiliki jenis dan karakteristik yang berbeda, sehingga keluhan yang muncul perlu dikenali sejak dini agar dapat diketahui penyebab dan penanganannya,” katanya.
Baca juga: Kista Endometriosis Bikin Sulit Hamil? Begini Kata Dokter
BPH, Prostatitis, hingga Kanker Prostat
BPH atau pembesaran prostat jinak merupakan kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran yang bukan disebabkan oleh kanker.
Menurut Andar, kondisi ini merupakan salah satu gangguan prostat yang umum terjadi pada pria usia lanjut.
BPH dapat memengaruhi sekitar 50 persen pria pada usia 60-an dan hingga 90 persen pria berusia di atas 80 tahun.
Ketika semakin membesar, jaringan prostat dapat menekan uretra sehingga aliran urine menjadi tersumbat atau lebih sulit keluar.
Kondisi tersebut ditandai dengan sejumlah keluhan, mulai dari sulit memulai buang air kecil, pancaran urine melemah, harus mengejan, lebih sering buang air kecil, sering terbangun pada malam hari, hingga merasa urine belum keluar seluruhnya.
Andar menegaskan, keluhan-keluhan tersebut termasuk dalam Lower Urinary Tract Symptoms atau gejala saluran kemih bagian bawah.
“Meskipun pada awalnya mungkin terasa ringan, keluhan yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, hingga kualitas hidup,” katanya.
Masih kata Andar, usia merupakan faktor risiko yang paling dominan, terutama karena risiko gangguan prostat, khususnya kanker prostat, meningkat seiring bertambahnya usia.
Selain itu, riwayat kanker prostat dalam keluarga juga perlu diperhatikan, terutama pada pria yang memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan riwayat penyakit tersebut.
Faktor genetik seperti mutasi BRCA juga menjadi salah satu faktor risiko. Kurangnya aktivitas fisik, obesitas, penyakit kardiovaskular, hipertensi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi turut berpengaruh terhadap gangguan prostat.
Sementara itu, prostatitis memiliki karakteristik berbeda dari BPH. Menurutnya, prostatitis merupakan peradangan atau pembengkakan pada prostat yang sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menimbulkan rasa nyeri.
“Berbeda dengan BPH yang umumnya terjadi pada pria berusia lanjut, prostatitis ini lebih sering ditemukan pada pria usia muda atau usia paruh baya,” ujar Andar.
Kondisi lainnya adalah kanker prostat, yakni pertumbuhan sel ganas yang berasal dari jaringan prostat.
Andar mengatakan kanker prostat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal dan ketika gejalanya muncul, keluhan tersebut dapat menyerupai gangguan saluran kemih akibat BPH.
“Karenanya, deteksi dini dan pemeriksaan yang tepat diperlukan untuk menegakkan diagnosis,” katanya.
Baca juga: Harus Dengar Suara Baru Bisa Tidur? Begini Penjelasan Ahli!
Pilihan Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi
Perkembangan teknologi di bidang urologi membuat pilihan penanganan BPH semakin beragam.
Andar menjelaskan, beberapa pilihan tersebut antara lain Transurethral Resection of the Prostate (TURP), Anatomical Endoscopic Enucleation of the Prostate (AEEP), serta Rezum Water Vapor Therapy.
TURP merupakan salah satu metode pembedahan yang telah lama digunakan untuk menangani BPH.
Pada prosedur ini, jaringan prostat yang menyebabkan sumbatan diangkat melalui saluran uretra menggunakan instrumen khusus.
“Operasi TURP ditujukan terutama untuk prostat dengan ukuran di bawah sekitar 80 gram, dengan mekanisme mengangkat jaringan melalui reseksi menggunakan energi listrik,” jelas Andar.
Pilihan lainnya adalah AEEP, teknik operasi pengangkatan jaringan prostat yang membesar melalui saluran kemih dengan mengikuti batas anatomi alami prostat.
Andar menjelaskan, HoLEP dan ThuLEP merupakan dua jenis prosedur yang termasuk dalam kelompok AEEP, dengan perbedaan pada jenis laser yang digunakan.
AEEP dapat digunakan pada berbagai ukuran prostat, termasuk yang berukuran sangat besar.
Menurut Andar, prosedur ini juga memiliki sejumlah keunggulan, seperti lebih efektif mengatasi sumbatan saluran urine, memperbaiki gejala dan aliran urine, menurunkan risiko perdarahan, serta menghasilkan penanganan yang tahan lama.
“AEEP seperti HoLEP atau ThuLEP dapat digunakan pada berbagai ukuran prostat, termasuk yang berukuran sangat besar, dengan waktu rawat inap sekitar satu hingga dua hari,” kata Andar.
Selain prosedur yang mengangkat jaringan prostat, tersedia Rezum Water Vapor Therapy. Metode ini menggunakan energi panas dari uap air steril yang disuntikkan langsung ke jaringan prostat yang menyumbat.
Berbeda dengan AEEP, Rezum bekerja dengan mengecilkan jaringan prostat secara bertahap sehingga saluran kemih menjadi lebih terbuka.
Menurut Andar, prosedur ini rata-rata berlangsung sekitar lima hingga 10 menit dan dapat dilakukan pada prostat berukuran di bawah sekitar 80 gram.
“Prosedur Rezum dapat dilakukan pada prostat berukuran di bawah sekitar 80 gram. Pemulihan dilakukan dengan rawat jalan, yakni dengan kateter selama beberapa hari,” ujar Andar.
Untuk kanker prostat, pilihan penanganan bergantung pada karakteristik penyakit, termasuk apakah kanker masih terlokalisasi atau sudah berkembang dan menyebar.
Andar menjelaskan, salah satu pilihan untuk kanker yang masih terbatas di prostat adalah operasi robotik atau radical prostatectomy.
Terapi fokal seperti HIFU dan cryotherapy juga dapat digunakan dengan pendekatan yang lebih terarah. Terapi ini bertujuan menghancurkan bagian prostat yang terdapat sel kanker menggunakan energi tertentu.
Sementara itu, terapi hormonal atau terapi deprivasi androgen bertujuan mengurangi atau menghambat hormon testosteron yang dapat membantu pertumbuhan sel kanker.
Menurut Andar, terapi ini utamanya dilakukan pada kanker prostat yang sudah menyebar atau berada pada stadium lanjut.



