Navigasi Pasien Penting untuk Percepat Pengobatan Kanker Paru

William Ciputra19 Agustus 2026

Jakarta – Bagi pasien kanker paru, perjalanan pengobatan tidak berhenti pada diagnosis. Proses mencari rujukan, menjalani pemeriksaan, mengatur jadwal pengobatan, hingga memastikan terapi berjalan sesuai rencana menjadi tantangan tersendiri.

Di tengah tingginya beban kanker paru di Indonesia, sistem yang membantu pasien melewati setiap tahapan tersebut menjadi semakin penting.

Salah satunya melalui layanan navigasi pasien (patient navigation), yang menghubungkan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan sepanjang perjalanan pengobatan.

Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker paru di dunia atau 12,4% dari seluruh kasus kanker.

Kanker paru juga menyumbang 18,7% dari total kematian akibat kanker pada tahun yang sama.

Layanan navigasi pasien membantu pasien melewati berbagai tahapan, mulai dari skrining, diagnosis, rujukan, pengobatan hingga tindak lanjut setelah terapi.

Navigator juga dapat membantu mengatasi hambatan seperti keterbatasan informasi, administrasi, transportasi, biaya, hingga kebutuhan dukungan psikologis.

Baca juga: Mengatasi Miom dan Kista Besar Tanpa Angkat Rahim

Dalam konteks kanker paru, layanan navigasi juga berpotensi mempercepat waktu pasien mendapatkan terapi.

Menurut Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat, teknologi, atau fasilitas, tetapi juga kemampuan sistem menghubungkan seluruh tahapan pelayanan secara efektif.

“Ketika pasien dapat bergerak lebih cepat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh sistem kesehatan melalui koordinasi yang lebih baik, penggunaan sumber daya lebih efisien, dan beban biaya lebih terkendali,” kata Esra, dikutip Rabu (19/8/2026).

Menurut Esra, navigasi pasien dapat membantu memperlancar perpindahan pasien dari satu tahap layanan ke tahap berikutnya sekaligus membuat koordinasi antarpihak menjadi lebih efektif.

Pendekatan serupa telah diterapkan di sejumlah negara. Di Inggris, misalnya, Clinical Nurse Specialist menjadi salah satu titik kontak bagi pasien kanker sejak diagnosis hingga tindak lanjut.

Sementara di Amerika Serikat, layanan navigasi pasien telah menjadi bagian dari standar mutu rumah sakit kanker melalui Commission on Cancer.

Rumah sakit terakreditasi diwajibkan memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi hambatan yang dihadapi pasien dan menjaga kesinambungan layanan selama proses pengobatan.

Bagi Indonesia, penguatan ekosistem navigasi pasien juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, dan sektor swasta perlu memiliki peran dalam membangun sistem yang dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Layanan navigasi pasien tidak bisa berdiri sendiri. Agar benar-benar memberi dampak, kita membutuhkan komitmen jangka panjang, standar layanan yang jelas, dan dukungan kebijakan yang membuat layanan ini menjadi bagian dari sistem kesehatan, bukan hanya inisiatif sesaat,” kata Esra.

Penguatan sistem tersebut diharapkan dapat membuat perjalanan pasien kanker paru menjadi lebih terkoordinasi, sekaligus membantu sistem kesehatan menggunakan sumber daya secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Keseimbangan Bakteri dalam Mulut