Jakarta – Kesemutan, mati rasa, nyeri seperti tersetrum, hingga kelemahan pada tangan atau kaki sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, gejala tersebut berkaitan dengan gangguan saraf tepi.
Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. dr. Ferry Senjaya, Sp.BS menjelaskan, saraf tepi adalah jaringan yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh.
“Melalui saraf tepi, tubuh mengirim dan menerima sinyal setiap saat, tanpa kita sadari,” kata dr. Ferry, dalam Media Briefing di Siloam TB Simatupang, Rabu (19/8/2026).
Saraf tepi berperan dalam membawa sensasi seperti sentuhan, panas, dingin, dan nyeri sekaligus meneruskan perintah gerak dari otak ke tubuh. Sama seperti organ lain, saraf tepi juga bisa terkena gangguan.
Dokter Ferry menjelaskan, gangguan terjadi ketika saraf mengalami tekanan, cedera, atau kerusakan. Pemicunya antara lain dari kecelakaan, luka sayat, patah tulang, saraf terjepit, tumor, hingga komplikasi operasi.
Gejalanya pun dapat beragam. Pasien bisa mengalami kelemahan atau kehilangan kemampuan menggerakkan tangan dan kaki, mati rasa, kesemutan, nyeri seperti terbakar atau tersengat listrik, hingga gangguan fungsi tertentu seperti drop hand dan kesulitan menggenggam.
Pada kondisi tertentu, gejala tersebut dapat menunjukkan cedera saraf akibat trauma, gangguan pleksus brakialis, saraf yang terjepit, nyeri saraf kronis, atau tumor saraf tepi.
Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui sumber gangguan sebelum menentukan penanganan.
Temuan pemeriksaan, lanjut Dokter Ferry, akan dinilai bersama dengan keluhan dan perubahan fungsi yang dialami pasien.
“Cedera saraf bersifat kompleks dan time-sensitive, sehingga keterlambatan diagnosis maupun rujukan dapat menjadi hambatan dalam penanganannya,” jelasnya.
Salah satu pilihan penanganan pada kondisi tertentu adalah Peripheral Nerve Surgery atau bedah saraf perifer.
Prosedur ini dilakukan untuk memperbaiki, membebaskan, menyambungkan, atau mengalihkan saraf yang mengalami kerusakan di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Menurut Dokter Ferry, pilihan tindakan bergantung pada jenis dan tingkat kerusakan saraf. Operasi mikro, misalnya, dapat dilakukan dengan menyambungkan kembali ujung saraf yang mengalami cedera.
Dokter juga dapat menggunakan nerve graft atau conduit, melakukan neurolysis untuk membebaskan saraf dari tekanan atau jaringan parut, hingga nerve transfer dengan mengalihkan saraf yang masih berfungsi untuk membantu mengaktifkan kembali otot yang kehilangan persarafan.
Baca juga: Mengatasi Miom dan Kista Besar Tanpa Angkat Rahim
Penanganan Saraf Tepi Melibatkan Berbagai Keahlian

Penanganan gangguan saraf tepi tidak berhenti pada tindakan operasi. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, ada layanan Peripheral Nerve Surgery terintegrasi yang melibatkan dokter spesialis lintas keahlian.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan pasien secara menyeluruh, termasuk aspek keamanan selama tindakan hingga pemulihan setelah operasi.
Dokter-dokter dalam layanan tersebut terdiri dari spesialis bedah saraf, anestesiologi dan terapi intensif, serta kedokteran fisik dan rehabilitasi.
Dari segi anestesi, misalnya, Anesthesiologist and Acute Pain Services Leader Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Andreas Willianto, Sp.An-TI menyebutkan, setiap pasien punya kondisi, kebutuhan, dan karakteristik yang berbeda.
“Oleh karena itu, setiap rencana anestesi disusun secara individualized dan disesuaikan dengan kondisi pasien serta jenis tindakan operasi yang akan dilakukan,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Pada tindakan bedah saraf perifer tertentu yang relatif tidak kompleks dan membutuhkan komunikasi serta umpan balik pasien selama operasi, dokter dapat menggunakan teknik conscious sedation.
Menurut Dokter Andreas, teknis tersebut memungkinkan pasien tetap rileks dan nyaman, tetapi masih dapat berkomunikasi selama prosedur.
Kondisi pasien juga dipantau secara berkesinambungan, termasuk kedalaman sedasi, fungsi motorik, dan tanda-tanda vital. Setelah operasi, penanganan nyeri menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Siloam Hospitals TB Simatupang memiliki Acute Pain Service (APS) yang terdiri dari dokter spesialis anestesi dan perawat terlatih untuk membantu menangani nyeri akut.
Penanganan dapat menggunakan berbagai pendekatan sesuai kondisi pasien, termasuk Patient-Controlled Analgesia (PCA), peripheral nerve block, dan pendekatan multimodal.
Penanganan nyeri yang optimal dapat membantu pasien bergerak lebih dini dan menjalani proses pemulihan dengan lebih nyaman.
Tahap berikutnya adalah rehabilitasi. Kepala Departemen Rehabilitasi Medik Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Theresia D. Arini, SpKFR, mengatakan program rehabilitasi disesuaikan dengan jenis gangguan, tindakan yang dijalani, serta perkembangan masing-masing pasien.
“Rehabilitasi medik bertujuan mempertahankan kemampuan yang masih baik dan melatih kembali fungsi yang menurun. Program dapat berupa latihan gerak, penguatan, pengelolaan nyeri, dan latihan aktivitas sehari-hari,” jelas Dokter Theresia.
Pemulihan saraf tidak selalu berlangsung cepat. Oleh karena itu, program rehabilitasi dievaluasi secara berkala dan dapat berubah sesuai perkembangan pasien.
Fokusnya dapat dimulai dari mengatasi nyeri, mempertahankan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi, memperbaiki postur, hingga membantu pasien kembali mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Melalui pendekatan multidisiplin tersebut, penanganan gangguan saraf tepi tidak hanya berfokus pada tindakan operasi, tetapi juga mencakup persiapan anestesi, pengendalian nyeri, serta rehabilitasi untuk mendukung pemulihan fungsi pasien.
Baca juga: Artificial Ligament, Opsi Pemulihan Cepat pada Cedera ACL



