Jakarta – Pemerintah Metropolitan Seoul, Korea Selatan, tengah menyiapkan peta jalan untuk menjamin warganya dapat berjalan kaki dalam keteduhan mulai tahun 2028 mendatang.
Kebijakan ini berangkat dari gagasan bahwa akses terhadap ruang yang sejuk merupakan bagian dari layanan publik.
Artinya, keteduhan tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan, tetapi perlu hadir di sepanjang rute yang digunakan warga dalam aktivitas sehari-hari.
Sebelum diterapkan secara luas, Seoul akan menjalankan proyek percontohan pada 2026–2027 di sejumlah ruas jalan dengan tingkat penggunaan tinggi atau yang masih minim keteduhan.
Hasil dari proyek tersebut akan digunakan untuk menyusun standar sebelum kebijakan diperluas ke seluruh kota pada 2028.
Wali Kota Seoul, Oh Se-hoon menjelaskan, pihaknya sudah memperbanyak area hijau melalui inisiatif Garden City Seoul. Menurutnya, menyediakan tempat berteduh menjadi langkah berikutnya.
“Saya akan menjadikan tempat berteduh bukan sekadar fasilitas di lokasi tertentu, melainkan layanan perkotaan dasar untuk melindungi kesehatan dan kehidupan masyarakat,” kata Oh, seperti dikutip dari The Korea Times, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: Thailand Buka Akses Pendidikan Tinggi bagi Pelajar Indonesia
Rencana tersebut tidak hanya mengandalkan penanaman pohon. Pemerintah kota akan menghubungkan berbagai sumber keteduhan, mulai dari pepohonan bertajuk lebar, bayangan bangunan, taman, kanopi, awning, hingga ruang publik dan jalur pedestrian.
Titik-titik teduh yang sebelumnya berdiri sendiri akan dibuat menjadi jalur yang saling terhubung. Seoul menyebut konsep ini sebagai “neighborhood shade paths” atau jalur keteduhan lingkungan.
Jalur tersebut nantinya diarahkan untuk menghubungkan kawasan permukiman dengan berbagai tujuan sehari-hari, seperti stasiun kereta bawah tanah, sekolah, pasar, rumah sakit, dan taman.
Di lokasi yang memungkinkan penanaman pohon, Seoul akan memprioritaskan pohon dengan tajuk lebar, terutama di trotoar yang luas.
Sementara pada area yang sulit ditanami, seperti trotoar sempit atau kawasan dengan fasilitas bawah tanah, pemerintah akan menggunakan kanopi musiman, awning, dan tempat berteduh berukuran lebih kecil.
Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya dampak gelombang panas. Hingga Senin (17/8/2026), sebanyak 31 orang meninggal akibat cuaca panas di Korea sepanjang tahun ini.
Kondisi di Seoul juga menunjukkan bahwa perjalanan sehari-hari menjadi salah satu titik rawan. Analisis pemerintah kota terhadap 67.029 trotoar sepanjang 4.031 kilometer menemukan bahwa jalur pejalan kaki di Seoul rata-rata terpapar sinar matahari selama 4 jam 21 menit.
Sekitar 27,6 persen jalur bahkan terkena sinar matahari langsung selama enam jam atau lebih. Rata-rata tingkat keteduhan di jalur pedestrian Seoul baru mencapai 44,4 persen.
Bayangan bangunan menyumbang 29,2 persen, sementara pepohonan memberikan 15,2 persen keteduhan. Sekitar tengah hari, ketika bayangan bangunan semakin pendek, pepohonan jalan menjadi sumber perlindungan yang semakin penting.
Data Korea Disease Control and Prevention Agency turut memperlihatkan risiko tersebut. Dari 815 kasus penyakit terkait panas yang tercatat di Seoul sepanjang 2023–2025, sebanyak 31,4 persen terjadi di jalan dan trotoar.
Oleh karena itu, Seoul tidak hanya ingin menambah jumlah pohon atau fasilitas peneduh. Pemerintah kota akan memasukkan prinsip keteduhan ke dalam perencanaan tata kota.
Baca juga: Bising dan Ganggu Tetangga, Pria di Kyoto Ditangkap Polisi



