AS Disebut Beri Lampu Hijau pada Arab Saudi untuk Memperkaya Uranium

William Ciputra19 Juli 2026

Jakarta – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut memberikan lampu hijau kepada Arab Saudi untuk memperkaya uranium. Namun draf kesepakatan tersebut sejauh ini tidak memuat ketentuan internasional yang bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir.

Informasi ini didapat dari sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut serta draf dokumen yang ditinjau oleh CNN, yang menyebut draf perjanjian nuklir itu saat ini masih menunggu tanda tangan Trump meski perundingan sudah selesai sejak Oktober 2025 lalu.

Kepada CNN, dua narasumber mengatakan bahwa penandatangan oleh Trump tertunda salah satunya akibat perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dengan Iran.

Selain itu, sejumlah anggota Kongres AS juga meyakini bahwa pemerintahan Trump sengaja menunda penandatanganan draf karena khawatir akan menimbulkan gelombang penolakan yang bisa saja malah menggagalkan perjanjian tersebut.

Para pakar yang diwawancarai CNN menilai kesepakatan tersebut berpotensi membuka jalan bagi Arab Saudi untuk mengembangkan senjata nuklir apabila tidak disertai mekanisme pengamanan yang ketat.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, juga pernah menyatakan bahwa negaranya akan mengembangkan senjata nuklir sendiri apabila Iran, yang merupakan rival utama Riyadh di kawasan, berhasil memiliki bom nuklir.

Empat sumber mengatakan perjanjian tersebut, yang mencakup kerja sama nuklir sipil melalui 123 Agreement serta perjanjian pengamanan nuklir yang wajib diterapkan. Namun hingga saat ini draf belum dikirim ke Kongres untuk ditinjau sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang federal setelah ditandatangani.

Gedung Putih tidak menjawab pertanyaan terkait isi perjanjian tersebut. Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington, DC, juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari CNN.