Alasan Banyak Orang Bertahan dengan Pasangan Toxic

William Ciputra14 Agustus 2026

JakartaHubungan yang nggak sehat justru sulit ditinggalkan. Seseorang bahkan bisa terus kembali kepada pasangan toxic meski menyadari adanya pola manipulasi, konflik, atau perlakuan yang membuatnya terluka.

Menurut Abdul Hamid, psikoterapis dari Monobikash Foundation, salah satu alasannya berkaitan dengan pengalaman seseorang sejak kecil.

Lingkungan emosional dan cara keluarga menghadapi konflik, kata dia, dapat mempengaruhi bagaimana seseorang memahami hubungan yang dianggap normal ketika dewasa.

“Lingkungan emosional tempat mereka dibesarkan, atau bagaimana konflik ditangani di rumah, menentukan standar tentang seperti apa cinta yang terasa ‘normal’ di kemudian hari,” jelas Hamid, dikutip dari The Daily Star, Jumat (14/8/2026).

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak terprediksi, misalnya menghadapi orang tua yang hangat pada satu waktu tetapi kemudian bersikap dingin, dapat terbiasa dengan perubahan emosi yang ekstrem.

Ketika dewasa, pola hubungan yang naik turun pun belum tentu langsung dianggap sebagai tanda bahaya.

Meski demikian, pengalaman keluarga bukan satu-satunya faktor. Hamid menjelaskan, orang yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan tetap dapat memiliki kesadaran diri untuk membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat.

Baca juga: Relationship Anxiety: Kenali Tandanya Sebelum Hubungan Rusak!

Rasa Percaya Diri Bukan Jaminan

Ada anggapan bahwa seseorang dengan rasa percaya diri dan harga diri yang baik tidak akan bertahan dalam hubungan toxic. Kenyataannya, kondisi tersebut tidak selalu demikian.

Seseorang dapat sangat percaya diri dalam pekerjaan, mampu mengambil keputusan, memimpin tim, dan berkomunikasi dengan tegas, tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap dirinya ketika berada dalam hubungan romantis.

Hamid menjelaskan, rasa percaya diri dalam pekerjaan biasanya terbentuk dari pengalaman yang dapat dilihat dan diukur.

Sementara itu, cara seseorang menilai dirinya dalam hubungan intim terbentuk jauh lebih awal dan sering kali berlangsung tanpa disadari.

Oleh sebab itu, seseorang yang terlihat percaya diri dalam berbagai situasi tetap dapat merasa bahwa pasangan yang memperlakukannya buruk merupakan orang terbaik yang bisa didapatkan.

Pasangan yang manipulatif juga dapat memanfaatkan kondisi tersebut. Salah satunya melalui trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang terbentuk dalam siklus perlakuan sangat penuh kasih sayang kemudian diikuti perlakuan buruk.

Baca juga: Membina Hubungan yang Aman Secara Emosional dengan Pasangan

Perhatian Berubah Menjadi Ketergantungan

Pola lain yang membuat seseorang sulit meninggalkan hubungan toxic muncul ketika pasangan memberikan perhatian yang sangat besar di awal hubungan.

Perlakuan tersebut dapat membuat seseorang merasa menjadi pusat dunia pasangannya.

Dalam beberapa kasus, pasangan juga secara perlahan membuat seseorang bergantung pada dirinya untuk berbagai hal yang sebelumnya dapat dilakukan sendiri.

Ketika dukungan tersebut tiba-tiba ditarik, muncul dorongan kuat untuk mendapatkan kembali perhatian dan kasih sayang yang pernah diterima.

Situasi tersebut dapat membuat seseorang sulit membedakan hubungan yang sedang mengalami masalah dengan hubungan yang memang sudah tidak sehat.

Konflik dan kesalahpahaman merupakan bagian dari hubungan. Namun, hubungan yang sehat tetap memiliki ruang untuk menyelesaikan masalah melalui komunikasi terbuka.

Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat cenderung memperlihatkan pola berulang berupa manipulasi, sikap tidak menghargai, kekerasan emosional atau fisik, serta kontrol berlebihan.

Baca juga: 7 Cara Membangun Kedekatan Fisik agar Hubungan Makin Hot

Saat Hubungan Sehat Terasa Membosankan

Ada alasan lain yang tidak kalah menarik. Bagi sebagian orang, hubungan yang sehat justru dapat terasa membosankan karena tidak menghadirkan konflik besar, drama, atau rekonsiliasi yang intens.

Gambaran mengenai hubungan di film dan media sosial turut mempengaruhi persepsi tersebut. Hubungan penuh tarik-ulur digambarkan sebagai bentuk gairah, kecemburuan sebagai bukti cinta, sementara hubungan yang stabil dirasa kurang dramatis.

Paparan terhadap gambaran tersebut secara terus-menerus dapat membuat seseorang menganggap drama sebagai bagian dari hubungan yang menarik. Akibatnya, ketenangan justru terasa seperti tidak adanya cinta.

Padahal, konsistensi dalam hubungan dapat menjadi bentuk rasa aman. Hubungan yang sehat tidak harus selalu menghadirkan emosi yang intens untuk dianggap berarti.

Pada akhirnya, Hamid menilai kemampuan untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat membutuhkan kesadaran terhadap diri sendiri.

Seseorang juga perlu membangun kehidupan di luar hubungan, termasuk menjaga kedekatan dengan keluarga dan teman yang memberikan dukungan positif.

Hal lain yang penting adalah berhenti melihat diri sebagai orang yang harus memperbaiki pasangan toxic.

Rasa bersalah karena merasa belum cukup berusaha justru dapat membuat seseorang semakin sulit keluar dari pola hubungan yang tidak sehat.

Baca juga: Posisi Seks yang Paling Disuka dan Dibenci Perempuan, Kamu Setuju?