Jakarta – Ulos menjadi sumber inspirasi bagi para desainer muda untuk mengeksplorasi berbagai bentuk, siluet, dan gaya busana kontemporer.
Eksplorasi tersebut memperlihatkan bagaimana wastra Sumatra Utara dapat diterjemahkan ke dalam karya yang lebih modern tanpa kehilangan karakter budayanya.
Sejumlah desainer muda dari Immerse Fashion Academy, UIC College of Fashion, Il Teatro Della Moda Indonesia, dan JF Art School menerjemahkan Ulos dalam beragam pendekatan desain.
Karya-karya tersebut menjadi bagian dari rangkaian BTN Indonesia Fashion Week 2026 dengan tema utama Ulos Simetria.
Ulos dalam tema tersebut tidak hanya dipandang sebagai kain tradisional, tetapi juga sebagai representasi keseimbangan, keteraturan, dan hubungan antarmanusia.
Konsep itu kemudian diterjemahkan para desainer melalui permainan warna, material, siluet, hingga konstruksi busana.
Salah satunya ditampilkan Bykarenju dari Immerse Fashion Academy melalui sembilan look bernuansa putih dan pastel.
Koleksi tersebut kemudian dilanjutkan dengan karya sembilan desainer lain yang menghadirkan busana dengan karakter lebih eklektik melalui warna hitam, merah, dan biru.
Baca juga: Aureate Collection, saat Batik Menyimpan Jejak Waktu di IFW 2026
“Koleksi ini untuk merangkul mode melampaui ritme tren sesaat. Tiap kreasi dirancang untuk menggugah emosi dan menginspirasi kehadiran bermakna,” kata Karen Junianti, desainer Bykarenju, dikutip Selasa (11/8/2026).
Eksplorasi lain datang dari Il Teatro Della Moda Indonesia melalui koleksi bertema Antara Arah dan Ruang.
Koleksi tersebut menggabungkan tiga pendekatan, yakni Gunslinger, L’équilibre, dan Chi va piano va lontano.
Gunslinger menerjemahkan karakter tegas melalui siluet terstruktur dan konstruksi presisi. Sementara L’équilibre mengeksplorasi keseimbangan struktur dan ekspresi melalui permainan proporsi, tekstur, dan material.
Adapun Chi va piano va lontano menghadirkan siluet lengkung dan garis tegas dengan palet warna bumi seperti moss green, dark brown, nude, beige, dan terracotta.
Bagi Natalie Grace, salah satu perancang Gunslinger, koleksi tersebut juga menjadi ruang untuk menerjemahkan pengalaman personal.
Ia mengambil inspirasi dari perjalanan menghadapi penyakit autoimun yang membuatnya harus berhenti menari.
“Bagi saya Gunslinger adalah simbol ketangguhan, pengendalian diri, dan keberanian untuk terus melangkah meski jalan di depan belum sepenuhnya pasti,” ujar Natalie.
Il Teatro Della Moda Indonesia juga menghadirkan koleksi Epilog Sentuhan. Koleksi tersebut mengeksplorasi tema transformasi, keindahan, serta keberanian melalui beberapa pendekatan seperti Cocoon Butterfly: Transformation, Sculpture Meets Painting: Silent Beauty, dan Eternal Form.
Sementara itu, UIC College of Fashion membawa perspektif yang lebih futuristik melalui tema The Future of Fashion: Redefining Tomorrow.
Para desainer muda mengangkat berbagai gagasan mulai dari identitas, genderless fashion, arsitektur brutalisme, hingga dunia Dune.
Beberapa tema yang diangkat antara lain Fragments of Identity, A’MEN, BRÜTALIST, Madman’s Literature, Nap Of Star, Love that Awaits Across Centuries, dan Neo-Arrakis.
Koleksi Fragments of Identity karya Gabriella Ixchel Bain, misalnya, mengeksplorasi isu identitas dan transformasi dengan mengambil inspirasi dari subkultur Jepang.
“Tujuannya adalah untuk menyediakan ruang aman bagi orang-orang yang dianggap aneh atau berbeda, sebagai tempat aman untuk membayangkan kembali tubuh sebagai tempat sakral,” kata Gabriella.
Eksplorasi Ulos kemudian ditutup melalui karya para desainer muda dari JF Art School.
Mereka menghadirkan tiga koleksi bertajuk Celestial Lumina, Silk & Spores, dan Sculpture Denim, yang masing-masing terdiri dari sembilan look.
Selain menawarkan ragam siluet dan material, ketiga koleksi tersebut membawa cerita personal yang menjadi dasar proses kreatif para desainer.
“Koleksi kami terinspirasi dari cerita masing-masing, personal. Selama proses desain, kami mencari dan menggali lagi estetika dari tema-tema itu sehingga hasilnya seperti koleksi di panggung IFW,” kata Bella Anaswara.
Beragam pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana Ulos dapat terus berkembang melalui perspektif generasi muda.
Dari permainan siluet hingga eksplorasi tema futuristik, wastra tradisional tersebut menjadi titik awal untuk menciptakan karya yang relevan dengan perkembangan mode saat ini.
Baca juga: LUMINARA Tampilkan Wajah Baru Wastra Nusantara di IFW 2026



