Jakarta – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau mendukung layanan digital. Di tengah persaingan global, AI berkembang jadi aset strategis yang menentukan kekuatan ekonomi, pertahanan, dan posisi geopolitik suatu negara.
Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Ekonomi Politik Internasional, Arie Kusuma Paksi, menilai negara yang mampu menguasai AI akan memiliki keunggulan di berbagai sektor sehingga teknologi tersebut kini dipandang setara dengan sumber daya strategis lainnya.
“Karena manfaatnya sangat besar, AI kini mulai diperlakukan seperti minyak atau teknologi nuklir pada masa lalu, yakni sebagai aset strategis yang harus dikuasai negara,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip dari laman resmi UMY, Selasa (21/7/2026).
Menurut Arie, AI punya dua dimensi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, teknologi ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan produktivitas.
Sementara di sisi yang berbeda, AI juga menjadi pondasi penting bagi pengembangan sistem pertahanan, intelijen, serta keamanan siber.
Baca juga: 5 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Mengirim Pesan Buatan AI
Persaingan Global Bergeser ke Penguasaan AI
Perubahan peran AI, lanjut Arie, turut mengubah arah persaingan antara Amerika Serikat dan China. Menurutnya, rivalitas kedua negara kini tidak lagi sebatas perang dagang, melainkan telah bergeser menjadi kompetisi penguasaan teknologi.
Salah satu titik persaingan tersebut berada pada penguasaan chip semikonduktor berteknologi tinggi yang menjadi komponen utama dalam pengembangan AI modern.
Amerika Serikat saat ini memperketat pembatasan ekspor chip canggih ke China, termasuk membatasi akses terhadap peralatan produksi chip dari sejumlah perusahaan global.
Meski demikian, Arie menilai kebijakan tersebut belum tentu menghambat perkembangan teknologi China.
“Tekanan Amerika Serikat justru bisa menjadi bumerang. Ketika akses terhadap chip dibatasi, China semakin terdorong membangun industri chip-nya sendiri sehingga dalam jangka panjang dapat mempercepat kemandirian teknologi mereka,” imbuhnya.
Ke depan, penguasaan AI akan semakin menentukan keseimbangan kekuatan dunia. Negara yang memiliki data dalam jumlah besar, infrastruktur komputasi, serta sumber daya manusia unggul akan memperoleh keuntungan kompetitif yang terus bertambah.
Menurut Arie, perebutan pengaruh global kini tidak lagi bertumpu pada sumber daya alam semata. Infrastruktur digital seperti pabrik semikonduktor, pusat data (data center), hingga jaringan kabel internet bawah laut telah menjadi aset strategis yang menentukan posisi tawar suatu negara.
Baca juga: OpenAI Dikabarkan Sedang Menyiapkan Perangkat Keras Smart Speaker
Indonesia Masih Menjadi Pengguna AI
Di tengah perlombaan tersebut, Arie menilai Indonesia saat ini masih lebih banyak berperan sebagai pengguna dan pasar AI dibandingkan sebagai pengembang teknologi.
Kondisi itu dipengaruhi belum kuatnya industri semikonduktor nasional maupun kapasitas riset AI yang mampu bersaing di tingkat global.
Meski demikian, pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan AI nasional serta menargetkan kontribusi AI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 12 persen atau setara US$366 miliar pada 2030.
Namun, Arie mengingatkan target tersebut harus dibuktikan melalui implementasi yang nyata.
“Itu masih target dalam dokumen perencanaan. Keberhasilannya harus diukur berdasarkan implementasi dan data yang benar-benar tercapai, bukan hanya berdasarkan target yang ditetapkan,” katanya.
Untuk mengejar ketertinggalan, Arie mendorong pemerintah memperkuat regulasi tata kelola data, memperbesar investasi riset AI, memperluas pengembangan talenta digital, serta memanfaatkan politik luar negeri bebas aktif guna memperluas kerja sama teknologi dengan berbagai negara.
Ia juga menilai Indonesia tidak perlu memaksakan diri mengembangkan model AI berskala raksasa. Menurutnya, pengembangan AI sebaiknya difokuskan untuk menjawab kebutuhan nasional, seperti sektor pertanian, kesehatan, mitigasi bencana, dan pelayanan publik.
“Indonesia harus fokus membangun kekuatan AI yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Pada saat yang sama, investasi pada data center dan energi bersih juga harus dipercepat karena keduanya merupakan fondasi utama bagi pengembangan ekosistem AI yang berkelanjutan,” pungkasnya.



